pertama2,, saya agak sebal dari tadi kok rada eror2 pada bagian html nya!
dan,,
saya nggak sengaja meng-klik template baru,,uhuhu,,padahal template lama yang buatan saya sendiri itu masih saya sukaa (dan save2an kode css nya entah dimana T.T)
yasudahlah. nanti saja.
Setengah-setengah.
Setengah-setengah itu nggak enak. Jadi orang setengah-setengah itu nggak enak.
Misalnya,,saya sebagai muslimah. Saya berjilbab tapi dalam situasi tertentu, misal waktu main2 ke sungai, pantai, dsb,,saya lepas kaus kaki. Padahal kaki kan juga aurat. Saya masih setengah-setengah.
Apa ya,,
Lebih ke “ah yang lain kan juga” tapi itu bukan saya.
Yang lain kan juga pake tangan ngatung
Yang lain kan juga pake baju pendek2
Yang lain kan juga pake jins yang menempel di kulit
Tapi itu bukan saya.
Saya sih sebisa mungkin menghindari hal2 itu.
Ah,,ngomong2 jins,,saya khilaf membeli jins yang menempel di kulit beberapa waktu lalu, dengan alasan sedang butuh jins dan mumpung lagi ada uang dan kalo bukan skinny jeans optionnya Cuma bootcut yang enggak saya banget lah.
Maka saya beli dengan alasan bisa dipake dengan baju panjang.
Bagus,, sekarang saya harus menambah koleksi baju panjang saya. Positif kan? *maksa.
Kembali ke kaus kaki,, memang susah sih. Masak mau main air berlumpur pake kaus kaki,,dan itu rada gilo,,hehe. Dan dimana saya bisa menemukan tempat aman untuk mengganti kaus kaki setelahnya? Masak di kamar mandi,, basah semua lah. Belom kalo kaus kakinya jatuh ke lantai kamar mandi tambah jijik.
Mungkin sebenarnya bisa. Kalo diniati pasti bisa. Tapi saya kok canggung dengan sekitar saya ya. Padahal sebenernya apa sih. Biar aja orang mikir apa. Tapi memang nggak praktis. Samasekali nggak praktis.
Saya jadi ingat waktu pergi ke amplaz dengan pacar :D
Waktu dia tiba2 menyambar tangan saya mengajak naik ke lantai atas. Dan tidak dilepas juga setelah sampai diatas. Ragu2, tapi saya mikirnya lama. Jadi selama mikir saya biarkan saja, meskipun tidak balas saya gandeng (beda dikit lah ya,,sama gandengan beneran,,haha)
Serius saya mikirnya lama banget.
Jadi ketika jalan lagi (thank god kali ini bukan mall), saya masi bisa memegang tali tas saya (ini memang kebiasaan kayanya) ato masukin tangan ke saku dress(? Semacam lah males jelasin) saya. Untuk menghindari dia curi2 kesempatan :B, tapi saya tau saya harus bilang kalo emang nggak mau.
Ya.
Saya risih.
Tapi ada satu kesalahan.
Waktu dia gandeng tangan kanan dan tas saya sandang di bahu kanan dan melorot2 tidak nyaman.
Maka tas saya pindah ke bahu kiri. Lalu dia segera gandeng saya lagi.
Saya merasa bego, hahahahaha *tawa garing*
Saya risih, ini memang bukan saya. Maka saya harus bilang.
Salah saya,
Saya bilangnya waktu kami jalan di mall lagi. Dan dia bilang “kayaknya kemaren2 mau2 aja”
Salah. Bukan mau2 aja. Saya mikir sepanjang kamu gandeng saya. Tapi sumpah,, saya mikirnya lama banget.
Apa ya, yang saya pikirkan?
Apakah saya akan terbiasa nantinya.
Apakah sebenarnya wajar saja karena dia pacar saya.
Tapi tidak,,jelas ini bukan saya (saya yakin akhirnya!)
Saya yakin ini bukan saya dan saya harus bilang.
Dan saya bilang, sekali lagi adalah kesalahan mengatakannya waktu jalan di mall.
Karena saya males berdebat beradegan india di tempat umum.
Sampe2 pasangan mbak2 jawa dan om2 bule yang bergandengan tangan (beneran lo) di depan saya menoleh ke kami. Waktu itu saya sedang ber-ekspresi big grin banget dan males menatap pacar yang cemberut ke saya, jadi saya menatap pasangan di depan saya masih dengan ekspresi big grin.
BIG GRIN.
Saya merasa sungguh tolol dan rasanya pasangan itu menatap saya lama sekali.
dan sayapun menatap mereka lama sekali dengan ekspresi big grin nggak jelas.
Aaaagggghhhh tolooollll!!! *jedot2in kepala*
Jadi ketika kami jalan lagi kali berikutnya, tidak di mall, dia tidak gandeng saya.
Sama sekali.
Satu kali dia refleks pegang tangan saya karena kaki saya dengan bodohnya terperosok celah balok2 pembatas jalan dan saya kaget dan dia juga kaget. Haha. Setelah itu dia nggak keterusan pegang tangan saya, bahkan waktu menyebrang jalan.
Saya benar2 menghargainya,,meskipun sempet mikir apa memang pacar saya dasarnya nggak se-gentleman itu gandeng2 pacarnya nyebrang jalan,,wkwkwk.
Tapi ketika sampai dirumah.
Saya baru saja bilang terimakasih karena telah menghargai saya dengan tidak lagi gandeng-gandeng saya, dan baru mau bilang kalo saya sangat menghargainya, ketika dia memotong.
“nggak laah. Aku juga tau tempat kali. Kalo di mall ya tetep aku gandengg”--->nggak jelas maksudnya apa. Banget. Nggak jelas dia becanda apa serius. Yang pasti saya udah gondok duluan (my fault, ok) dan cuma pengen cepet ngglethak. Dia sendiri waktu itu keburu2 rapat KKN dan sempat berujar kalo dia ngga mau bahas ini lebih lanjut. Curang!
Oh, tunggu tunggu.
Saya baru ingat saya sempat klarifikasi.
“lah tadi nyebrang jalan kok nggak digandeeng” (saya pikir ucapannya tadi becanda lah ya)
“iya deh besok2 aku gandeng”
Zzzzzz. Tauk ah. Saya sudah gondok duluan.
Mungkin sebenarnya sepanjang dia tidak gandeng saya dia juga mikir,,sama seperti saya mikir sepanjang dia gandeng saya kali sebelumnya.
Semoga saja hasil pemikiranmu sejalan denganku.
Habis, dia keburu berangkat KKN jauh2 dan kami tidak sempat bahas lagi.
Hanya sekali di telepon, waktu dia menggombal bilang “kangen gandeng tangan kamu”
Dan saya spontan teriak “nggak boleeeehhh”
Dan dia balas hampir sama spontannya “boleeehh”
“nggak boleeehh”
“boleehhh”
Haha. Baiklah saya tunggu kamu pulang, kita selesaikan di jogja.
Tapi sepertinya memang digandeng kemana2 itu bukan saya banget, dan saya nggak tertarik untuk jadi orang lain.
Kasarnya,
Ini memang saya kok, kalo kamu nggak mau terima saya seperti ini pacaran saja dengan orang lain!
Lalu kenapa saya pacaran dengan dia?
Hem, bersambung ke part 2, mungkin :D
0 friends' comments:
Post a Comment