Kakak angkatanku, sengaja menolak jabatan bergengsi di dalam himpunan,,
ternyata dia mengincar jabatan yang lebih "wah" di luar himpunan. Waow.
Heran juga,, ambisius banget ni orang.
Tapi denger2 teman seangkatanku juga ada yang gitu, menolak jabatan kecil
karena mengincar yang lebih besar. Oh waow. Aku mulai terheran2, dan mulai
memperhatikan teman2 di sekitar.
O iya, ya...
Ternyata selama ini....
Meskipun mereka nggak melulu menolak-jabatan-kecil-karena-pengen-yang-besar,
tapi keliatan kalo mereka pengen jadi "sesuatu", pengen ikut ini itu,
intinya pengen eksis lah. Dan aku mengait2kannya dengan mengejar karir. Ada
kaitannya gak to sebenarnya? (lah...)
Aku sendiri maunya let it flow ajalah,, nggak usah pake dikejar2,,tapi hari
ini aku akhirnya datang jauh2 dari rumah dengan motivasi "numpang ngeksis".
Cih. Aku menghina diri sendiri. Tapi ya sudahlah,, toh akhirnya cukup
menyanangkan,,
Duh,, banyak pikiran bersliweran di benakku. Tapi nggak bisa diungkapkan
dengan baik nih. Aku cerita aja yaa
Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu aku ditawari kerjaan. Atau jabatan.
Entah mana istilah yang lebih pantas untuk ini.
Waktu itu aku lagi ribet ngurusin ospek dan meriksa tugas anak2, jadi aku
berpikir dengan cepat dan menolak tawaran itu. Padahal jauh sebelumnya aku
memang sempet bilang ke orang yang nawari kalo aku ingin jabatan itu.
Lalu kenapa menolak??
Hmm...
Kenapa ya?
Waktu itu aku mikir dengan cepat siih,, tapi ada beberapa hal yang
mengganggu pikiranku:
1. aku ditawari,, coba aku taunya dari orang lain/ info...
2. yang nawari dia sih :p
3. dengan cara yang tidak kusuka
4. waktu aku mulai ragu2 dan alamat nolak, tiba2 dia bilang:
5. udah, terima aja,, kalo di "tempat lain" mesti pake tes lho,, sama aku
enggak usah....
Oh! Itu dia! Ini tentang HARGA DIRI
Entah kenapa habis dia bilang gitu aku malah langsung look down sama kerjaan
itu.
Apa? Kerjaan jalur belakang? Nggak pake tes nih?
Entah kenapa aku menghargai diriku "lebih mahal" dari itu. Semacam: "kalopun
pake tes juga aku kayaknya bisa..."
Padahal kan justru itulah esensi jalur belakang, ya gak sih?
Semacam "karena aku tau kamu mampu, jadi nggak usah pake tes"
Seharusnya aku merasa honored.
Tapi kenapa aku malah merasa direndahkan ya? Sepertinya ada masalah dengan
caraku menghargai diri sendiri.
Terlalu mahal? Terlalu murah? Atau hanya bingung?
Oh, oke. Sebenarnya masih ada faktor lain sih.
Dia bilang partnerku adalah si A. nah, entah kenapa, aku makin look down
begitu denger si A ini.
Bukan karena aku meremehkan kemampuan si A, bukan juga karena aku nggak
cocok sama si A.
Aku hanya nggak menemukan alasan yang SANGAT tepat kenapa dia yang ditawari,
dan bukannya orang lain.
Entah kenapa aku langsung suudzon adanya maksud lain dari perekrutan ini.
Hhhhh. Emang suudzon samasekali nggak baik sih, dan aku menyesal telah
sempat memikirkannya.
Tapi aku enggak menyesal telah menolak jabatan itu.
Oke,, aku emang sempat menginginkannya.
Oke,, jabatan itu cukup bergengsi,, dan untuk orang2 yang mengejar karir,,
monggo... silakan...
Tapi aku menghargai diriku sendiri lebih dari itu. Semacam kalo aku terima,
otomatis aku akan berada dalam daerah kekuasaannya. Entah kenapa hal2
semacam itulah yang kupikirkan.
Yah,, sekali lagi,, prasangka.
Dan perasaan "aku bisa ada di sini karena kamu,, seribu terimakasih!!!"
sangat mengusik harga diriku.
Oh harga diri.....
Selama ini aku menganggap caraku meletakkan harga diriku sudah benar,, ini
akan membuatku tidak mudah tunduk pada kekuasaan orang lain, tidak mudah
diperlakukan sewenang2, tidak mudah dimanfaatkan....
Tapi semua alasan itu kok kayaknya berbau prasangka. Karena itulah,, aku
mulai bimbang juga,,,
Apakah aku terlalu angkuh???