jika kau telah bersiap mengangkat sudut bibir untuk menertawakanku.
Aku keracunan baca Bartimaeus yang kedua.
Aku mendapati diriku berbaring membacanya tidak kurang dari delapan jam,
bangun hanya untuk ke kamar mandi, makan siang jam empat sore, kemudian
kembali berbaring dan membaca lagi. Total entah berapa jam yang kuhabiskan
sampai sekarang, ketika akhirnya aku berhenti membacanya di bagian yang
paling seru, menyisakan beberapa lembar terakhir. Kebiasaan aneh.
Ngomong-ngomong, aku sengaja menulis dengan bahasa novel terjemahan untuk
meyakinkan kalian, bahwa aku sangat teracuni. Bahkan mungkin nantinya bakal
terlihat mirip seperti gaya bahasa Bartimaeus. Argh, aku benar-benar
keracunan!
Bartimaeus buku kedua, "The Golem's Eye", menurutku bahkan lebih bagus dari
yang pertama. Hal yang langka ditemukan pada novel trilogi atau tetralogi,
menurutku. Lebih banyak sudut pandang, lebih banyak konflik. Dan aku
menikmati ketidaksukaan Bartimaeus pada Nathaniel atas berubahnya Nathaniel
menjadi penyihir angkuh yang haus kekuasaan. Meski begitu, masih ada sedikit
sisa-sisa sifat kanak-kanaknya, seperti Nathaniel yang menjawab panjang
lebar kepada Bartimaeus tentang hal-hal pribadi jika ditanya, yang
sebenarnya tidak perlu diceritakannya,, tapi sangat menghibur. Aku suka
Nathaniel yang kanak-kanak.
---------------------------------------------------------
*bahasa novel terjemahan selesai. Nggak enak nulisnya ternyata...
Btw, aku belum makan malem. Bingung mau jajan apa. Nasi padang, nasi goreng,
sate, soto,, pih. Lagi bosen....
Jadi pengen cari makan yang jauh. Tapi udah malem,, males juga pergi makan
jauh2 malem2,, sendiri pula. Mending nek ada temennya.
Makan apa ya?
Aku inget ada bebek goreng deket pasar situ kayaknya. Tapi nggak tau rasa
dan harganya. Gimana kalo ternyata harganya 20ribu untuk rasa yang aneh??
Ah, sudahlah. Nggak akan tau kalo nggak dicoba. Aku pergi beli bebek dulu
yaaaaa
---------------------
Bebeknya tutup. Apa2an jam segini udah tutuupppp
Hakaka. Ternyata deket situ ada bebek lagi, yang ternyata udah mau beres2.
Hiks. Masak masnya bilang,, "kalo nggoreng sendiri di rumah mau nggak mbak?
Udah dibumbui.." yang ternyata tidak bercanda, dilihat dari ekspresi masnya
yang nggak enak menatapku melongo miring. Kayaknya ibu2 sekitar sering beli
mentahan gitu kali yaa, yang penting udah dibumbui...
Sebenernya nggoreng cepet sih. Meskipun aku nggak pernah nggoreng bebek,,
tapi paling sama lah kayak ayam.... tapi aku akhirnya memutuskan jalan terus
ke utara. Berlawanan dengan kebiasaan, sebenernya. Biasanya aku kalo jajan
ke barat-selatan,, ini nyoba ke timur-utara. Jalan disini lebih gelap,, rada
horror juga sih. Hoho.
Nyari tempat makan yang rada rame,, hmm,, mie ayam, bakso bawor, siomay,
roti bakar (ternyata ada! Biasanya aku beli di jalan tajem dan sering
kehabisan). Aku akhirnya malah jalan-jalan terus liat2 tempat makan, nggak
beli-beli. Sampe akhirnya merasa udah jalan terlalu jauh dan jalannya makin
horror, jadi aku balik arah. Dan akhirnya malah beli soto di tempat yang
sepi. Tadinya mau makan disana karena males menggunakan piring-sendok
pribadi,, tapi horror e makan sendirian disana malem2...
Duh,, malah cerita ini.
Tapi ini bener2 menunjukkan aku yang kesepian di rumah sendirian. Makan
seenaknya, cenderung nggak teratur dan asal2an,, baca Bartimaeus sepanjang
hari,,, hiks. Sungguh tidak sehat.
Oh iya. Sebenarnya aku punya beberapa kerjaan lain. Cuma nggak ada semangat
mengerjakannya. Lagipula aku sedang di titik jenuh kegiatanku nih. Lagi
pengen nganggur senganggur-nganggurnya. Ahaha. Lagipula lagi,, kayaknya
untuk sementara ini aku akan harus berjuang sendiri. Hiks.
Raceto ya?
Lagi suntuk. Habis makan bukannya tambah semangat. Malah makin desperate.
Atau mungkin hanya efek keracunan.
Pengen baca lagi nih. Tapi bentar lagi buku kedua habis kubaca. Buku tiga
pun pasti bentar lagi habis dibaca. Gimana ya?
(kalo dibaca selembar sehari sih awet. Dua tahun kurang dikit baru selesai.
Tapi plis deh,, apaan banget).
Buku dua baguuss!! Bahkan lebih bagus dari buku satu! Baca Sim! Ayo semua
baca!!
Kapan2 aku akan mencoba menulis dengan gaya novel terjemahan lagi ah. Opo
jal. Tapi lucu juga, kadang2 kita menemukan kalimat2 yang benar2
diterjemahkan harfiah. Seperti "kemudian ia menjejalkan kakinya ke dalam
sepasang celana yang tergeletak..." padahal kan kalo dalam bahasa
Indonesia,, celana tu ya SATU,, bukan sepasang. Ya nggak sih?
Btw kalimat tadi karanganku lho. Yang di bartimaeus nggak gitu. Semacam lah
pokoknya. Oiya, sering juga "sepasang gunting..."
Udah ah. Baca lagi....