Tuesday, 25 August 2009

mengejar karir, harga diri

Mengejar karir, perlu nggak sih?
Kakak angkatanku, sengaja menolak jabatan bergengsi di dalam himpunan,,
ternyata dia mengincar jabatan yang lebih "wah" di luar himpunan. Waow.
Heran juga,, ambisius banget ni orang.
Tapi denger2 teman seangkatanku juga ada yang gitu, menolak jabatan kecil
karena mengincar yang lebih besar. Oh waow. Aku mulai terheran2, dan mulai
memperhatikan teman2 di sekitar.
O iya, ya...
Ternyata selama ini....

Meskipun mereka nggak melulu menolak-jabatan-kecil-karena-pengen-yang-besar,
tapi keliatan kalo mereka pengen jadi "sesuatu", pengen ikut ini itu,
intinya pengen eksis lah. Dan aku mengait2kannya dengan mengejar karir. Ada
kaitannya gak to sebenarnya? (lah...)
Aku sendiri maunya let it flow ajalah,, nggak usah pake dikejar2,,tapi hari
ini aku akhirnya datang jauh2 dari rumah dengan motivasi "numpang ngeksis".
Cih. Aku menghina diri sendiri. Tapi ya sudahlah,, toh akhirnya cukup
menyanangkan,,

Duh,, banyak pikiran bersliweran di benakku. Tapi nggak bisa diungkapkan
dengan baik nih. Aku cerita aja yaa
Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu aku ditawari kerjaan. Atau jabatan.
Entah mana istilah yang lebih pantas untuk ini.
Waktu itu aku lagi ribet ngurusin ospek dan meriksa tugas anak2, jadi aku
berpikir dengan cepat dan menolak tawaran itu. Padahal jauh sebelumnya aku
memang sempet bilang ke orang yang nawari kalo aku ingin jabatan itu.
Lalu kenapa menolak??

Hmm...
Kenapa ya?
Waktu itu aku mikir dengan cepat siih,, tapi ada beberapa hal yang
mengganggu pikiranku:
1. aku ditawari,, coba aku taunya dari orang lain/ info...
2. yang nawari dia sih :p
3. dengan cara yang tidak kusuka
4. waktu aku mulai ragu2 dan alamat nolak, tiba2 dia bilang:
5. udah, terima aja,, kalo di "tempat lain" mesti pake tes lho,, sama aku
enggak usah....

Oh! Itu dia! Ini tentang HARGA DIRI

Entah kenapa habis dia bilang gitu aku malah langsung look down sama kerjaan
itu.
Apa? Kerjaan jalur belakang? Nggak pake tes nih?
Entah kenapa aku menghargai diriku "lebih mahal" dari itu. Semacam: "kalopun
pake tes juga aku kayaknya bisa..."

Padahal kan justru itulah esensi jalur belakang, ya gak sih?
Semacam "karena aku tau kamu mampu, jadi nggak usah pake tes"
Seharusnya aku merasa honored.
Tapi kenapa aku malah merasa direndahkan ya? Sepertinya ada masalah dengan
caraku menghargai diri sendiri.
Terlalu mahal? Terlalu murah? Atau hanya bingung?


Oh, oke. Sebenarnya masih ada faktor lain sih.
Dia bilang partnerku adalah si A. nah, entah kenapa, aku makin look down
begitu denger si A ini.
Bukan karena aku meremehkan kemampuan si A, bukan juga karena aku nggak
cocok sama si A.
Aku hanya nggak menemukan alasan yang SANGAT tepat kenapa dia yang ditawari,
dan bukannya orang lain.
Entah kenapa aku langsung suudzon adanya maksud lain dari perekrutan ini.
Hhhhh. Emang suudzon samasekali nggak baik sih, dan aku menyesal telah
sempat memikirkannya.
Tapi aku enggak menyesal telah menolak jabatan itu.
Oke,, aku emang sempat menginginkannya.
Oke,, jabatan itu cukup bergengsi,, dan untuk orang2 yang mengejar karir,,
monggo... silakan...
Tapi aku menghargai diriku sendiri lebih dari itu. Semacam kalo aku terima,
otomatis aku akan berada dalam daerah kekuasaannya. Entah kenapa hal2
semacam itulah yang kupikirkan.
Yah,, sekali lagi,, prasangka.
Dan perasaan "aku bisa ada di sini karena kamu,, seribu terimakasih!!!"
sangat mengusik harga diriku.
Oh harga diri.....


Selama ini aku menganggap caraku meletakkan harga diriku sudah benar,, ini
akan membuatku tidak mudah tunduk pada kekuasaan orang lain, tidak mudah
diperlakukan sewenang2, tidak mudah dimanfaatkan....
Tapi semua alasan itu kok kayaknya berbau prasangka. Karena itulah,, aku
mulai bimbang juga,,,
Apakah aku terlalu angkuh???

9 comments:

ria krisna said...

jujur ya tak, itu angkuh.
menurutku sebagai makhluk Tuhan kita ga berhak merasa lebih superior dari orang lain, hanya karena kita lebih dari orang lain.

Karena apa yang kamu punya itu berasal dari Allah, dan kamu ga boleh terlalu bangga karenanya dan jadi terlalu sombong.
Itupun yang sedang kucoba.

tau maksudku?
sebenarnya yg kayak gitu sering kupikirin lo, lantaran aku jg gak jauh dri sifat sombong. lain kali aku posting apa yang kurasain.

Jabatan apa ta? aku skrg dah sama sekali ga ngejar jabatan.

ria krisna said...

btw, aku jadi ga enak. soalnya aku juga kadang ngerasa kayak gitu. dan menurutku itu angkuh

aLina :) said...

@Gel2
aku nggak bisa ngomen kamu,Gel.

pada posting tentang kesombongan,keangkuhan ya. .
bikin aku jadi mikir. .
slama ini aku juga pasti masih congkak dan takabur. .
aku nggak mauu,

seperti dikutip dari punyak Gel2:
Apalagi ketika kita menghadapi orang sombong, paling mudah adalah dengan balas sombong. Dan menahan untuk tidak sombong, merupakan hal berat.

Like this banget dahh.

gimana kalo kita nggak bermaksud sombong atau pamer,,tapi org laen nganggep sebaliknya??

Journal Kinchan said...

overall aku setuju dengan komen gelgel, tapi engga segitunya,,
maksudku paling engga kesan seperti itulah yang aku tangkap dari membaca postingmu ini, hehe.

aku juga masih sering angkuh.
halhal kecil yang aku lakukan aku gembar-gemborkan, sekedar biar orang lain tau perjuangan buat melakukan suatu hal.
tapi lamalama hal itu kesannya engga banget.
lebih menyenangkan biarkan orang lain tau sendiri perjuangan yang kita lakukan, dan rasanya lebih indah jika pujian-pujian itu keluar dari mulut mereka dengan sendirinya bukannya karena kita duluan yang mengungkitnya hehehe.

masalah superior, aku masih sering kayak gitu, tapi ternyata aku bakal keliatan kopong banget kalo aku tidak sesuperior yang aku pikirin,
dan harga diri bakal lebih jatuh kalo itu terjadi.

ngga nyambung banget ya? hahahaha

ria krisna said...

@kin2: haha. iya, kayknya ga segitunya si postinganmu tak. Soalnya akhir2 ini aku baru nyadar klo aku tu sombong bgt. Jadi itu sedang jadi topik batin. hehe.

@alin: lin, klo menurutku sombong itu masalah pikiranmu sendiri. Ga ada kaitanya ma orang lain. Kecuali ketika kamu mulai mengunderstimate orang lain.

Aku sadar aku sombong bukan lantaran aku bersikap congkak/sombong pada orang lain. Tapi perasaan sombong itu hinggap di pikiran2 ku, merasa terlalu bangga, hebat dll.

copey lagi said...

cie.. yang eksis..hhe
btw Alloh membenci orang yang sombong loh..jadi kita harus hati2..hhe. yang penting khusnudzon dan berniat ikhlas^^

*nggak nyambung ya..hehehe. quick reading nih..haha

Anonymous said...

it's just how it works ettak.
you can save your pride, but don't be delusional

Loretta Ollich said...

iya,, angkuh.
tapi tetep aja,, aku masi ngerasa kalo mempertahankan harga diri agar kita nggak mudah dikuasai itu peerlu.
hanya saja,,
sampe sebatas mana??

dan gelgel serta alin benar. kalo orang sombong di depan mata,, pengennya bales nyombong.
tapi nek aku sih biasanya mung pengen2 wae,, lalu segera teringat kalo sombong bales2an itu enggak banget.
-->dalam hal ini kontrolku suda lumayan.

tapi kalo tentang jatuh dalam kuasa oranglain,,
haha.
aku nggak rela.

dasarnya aku pengennya free sih.
dan keluargaku leberalis-demokratis.

opo sih?
gak nyambung ya?
curcol ni :D

Anonymous said...

hi every person,

I identified ollich.blogspot.com after previous months and I'm very excited much to commence participating. I are basically lurking for the last month but figured I would be joining and sign up.

I am from Spain so please forgave my speaking english[url=http://tucoolnewideas.info/forum].[/url][url=http://thehottesttopicspe.info/].[/url][url=http://niworlddiscovery.info/].[/url]