Dari dulu aku bertanya-tanya, kenapa orang desa giginya jelek?
Ehem.
Sebenernya rada gimanaa gitu ngepost disini. Tapiiii siapa tau ada yang tau jawabannya,, ya kan?
Yang kumaksud dengan gigi jelek itu, bisa keropos, ompong, dan atau struktur gigi yang buruk. Nah,, yang kuamati nih,, seringnya sih yang struktur buruk itu. Misal giginya bertumpuk2 sampe susah mengatupkan bibir, kalo ngomong jadi kurang jelas,, dan tetanggaku bahkan (maaf buuu) giginya ngilu kalo kena angin dingin (tau kenapa? Yaya,, karena giginya tidak terlindung bibir, alias nongol gitu deh)
Oh. Perlu ditekankan, aku bukan dokter gigi, juga bukan mahasiswa kedokteran gigi. Jadi kalo post ini makin kebawah makin sotoy,, mohon dibenarkan. Oke?
Kedua,, bukannya aku sok ber-struktur gigi bagus,, atau karena aku adalah pengguna behel. Ini semata-mata hanya karena penasaran dan ingin share saja...
Balik ke struktur gigi orang desa,,
Kira-kira kenapa ya?
Tetanggaku, bahkan, dari nenek-ibu-anak struktur giginya mirip2,, mirip parahnya. Bahkan tetangga sebelah2nya lagi yang nggak ada hubungan darah juga struktur giginya tidak terlalu baik.
Padahal, kalo dipikir2, penggunaan dot di desa kan lebih minim dibanding di kota (dot adalah tertuduh perusak struktur gigi),, tapi orang kota (sekitar tempat tinggalku dulu) jarang2 tu kayaknya yang struktur giginya separah orang2 yang kutemui di desa (tempatku tinggal sekarang...) bahkan bagi mereka yang nggak pernah pakai behel/kawat gigi seumur hidupnya.
Kira-kira apa ya?
Dugaan pertama : lifestyle.
Yaya,, tapi apa?
Hobi menggigit tebu? --> waton pol
Suka menggigit bibir? --> ini sih terlalu umum
Suka teriak-teriak? --> mulai gawe2
Dugaan kedua, masih ada hubungannya dengan lifestyle, orang desa kurang peduli dengan kesehatan gigi,, misalnya mereka kurang peduli bahwa gigi susu yang sudah goyah sebaiknya dicabut, atau apa, jadi akhirnya jumlah gigi lebih banyak daripada seharusnya, dan bertumpuk2 dalam rahang yang kecil.
Oh iya,, soal mencabut gigi susu ini,, kata dokterku mungkin aja ada orang yang gigi susunya nggak tanggal2 bahkan sampai dewasa, dan jangan asal dicabut,, karena mungkin aja dia nggak punya tunas gigi dewasa. Kalo dicabut,, berarti ompong permanen!! Sehingga harus di-rontgen dulu,, cek apakah ada tunas gigi dewasa ato enggak...
Nah, dugaan ketiga : genetis.
Tapiii masak sih mereka menikah dengan tetangga2 ato sodara2nya aja? (meskipun sangat mungkin sih)
Tapi tetep aja aneh. Apalagi tentang menikah dengan sodara itu,, bisa2 anaknya cacat,, ya kan?
Lagian,, mewariskan kromosom yang berisi informasi struktur gigi terdengar krikrik haurhaurr (raceto)
Habiiissss
Abangku giginya bagus,, dan waktu balita-TK-SD sering jadi model -piiiipp- (sensor) karena giginya bagus. Padahal ayah-ibuku giginya biasa wae. Kata ibuku,, waktu hamil abang, ibuk sering minum redoxon,, jadi tulang dan gigi abangku bagus. Ini juga menjelaskan tinggi badannya yang kurang umum. Hahah.
Begitulah.
Any idea?
Aku bener2 penasaran niii
Lalu,, aku pengen membahas kawat gigi.
Ada yang bilang haram.
Alasannya, karena mengubah ciptaan tuhan gitu.
Beberapa sumber menyatakan bahwa kalo pemakaian kawat gigi dimaksudkan untuk mencegah penyakit, atau, katakanlah,, akan terjadi sesuatu yang buruk kalo si orang nggak pake kawat gigi,, maka hukumnya boleh.
Dasarnya penggunaan kawat gigi sendiri selain alasan penampilan,, juga dapat memperbaiki proses pengunyahan, memperbaiki posisi rahang, dsb (sekali lagi,, aku bukan dokter gigi ato mahasiswa KG)
Lalu,, ada orang2 yang bertanya,, "kamu sendiri kenapa pake kawat gigi?"
Hmm,, oke. Sebenarnya aku telah diprovokasi untuk menggunakan kawat gigi sejak kelas 5 SD, oleh dokter gigi yang sama dengan yang akhirnya memasangkannya padaku 5 tahun kemudian. Alasannya,, gigiku ukurannya cukup besar untuk rahangku yang kecil, sehingga seiring pertumbuhan,, gigi2 itu bakal berdesakan dan bisa2 bertumpuk2 dan nongol keluar (now that I think about it, serem juga kalo mesti ngilu tiap kena angin)
Nah, waktu SD, aku nggak mau pake kawat karena nggak keren.
Pas SMP, kawat gigi mulai tren,, tapi aku liat temen2ku banyak bgt yang pake dan tetep nggak keren.
Pas SMA,, aku tambah diprovokasi sama dokterku. Alasannya, gigi geraham baruku bakal segera tumbuh, dan makin mendesak gigi2 yang lain. Oh waow. Aku mulai mikir,, dan akhirnya mau dikawat. Meskipun tetep nggak keren juga sih. Halah.
Nah,, dengan alasan macam itu,, apakah kasusku ini tergolong haram atau tidak haram??
Sekarang karena aku udah setengah jalan,, nggak mungkin juga kan tiba2 ngelepas kawat dan memasang kembali gigi yang dicabut (oh waow jijik banget lah,, giginya juga pastinya nggak disimpen sama dokterku KAN?)
Aku sih liat manfaatnya aja: gigi nggak keluar, insya allah nggak ngilu kena angin, posisi rahang membaik, pengunyahan optimal, dsb, dsb.
Karena,, pengunyahan yang baik mendukung pencernaan yang baik pula. Dan pencernaan yang baik,, serius,, sangat krusial bagi tubuh. Gimana makanan bisa diserap tubuh kalo nggak dicerna dengan baik?? Ya nggak??
Oh iya. Kata temanku mantan pengguna behel, di akhir perawatan giginya dikikir biar rata.
Nggak tau itu optional atau prosedural. Kikir gigi kan haram!
Tapi temanku si gelgel menyadari kalo gigi depanku turun satu (ya ampun,, awalnya aku bahkan nggak nyadar gel!)
Jadi mungkin nantinya gigiku dikikir juga.
Mungkin lhoo,, aku juga belum tanya ke dokterku. Tapi,, enaknya gimana ya?
Sebenernya, kalopun nggak dikikir nggak papa juga sih, toh yang nyadar Cuma gelgel ini. Haha.
Tapi kalo dikikir dan tambah bagus juga aku seneng. Gege.
Tapi haram.
Hmmm.....
Aku semacam orang bertato mau tobat yang memegang setrika dengan tangan gemetar.
Eh,, YA NGGAK LAH.
Kok idiomku nggak oke banget sih.
Enaknya gimana ya? Any idea??
Btw kawat tren lagi ya?
Apa Cuma di teknik industri?
Banyak bgt yang baru pake/ mau pake. Baru pake: emmy, putri, arin. Mau pake: vita, manda, gelgel.
Hm,, padahal aku baru aja merasa bimbang2 gimanaaaa
Ini malah pada ikut2. Jadi seneng,, banyak temennya. Halah.
Yaaa tapi sebentar lagi aku mo copot behel,, meskipun aku bilang enggak mau copot,, nanti nggak lucu lagi :p
Btw lagi,, dokter gigi ki sugih tenan yo.
Sekali masang behel 4 juta. Keramik 6 juta. Titanium 10-12 juta.
Sekali kontrol bisa sampe 60 ribu. Sehari bisa sampe 15 pasien. Eh tapi nggak semua kontrol behel deng,, hehe.
Lalu, waktu ngelepas behel,, setiap titik platina atau titanium nggak dikembalikan ke pasien. Mungkin besoknya dilebur jadi cincin sama si dokter, who knows?
Kemarin satu titik platina-ku diambil, aku yang minta,, soalnya copot2 melulu. Tapi mau tak bawa pulang kok ternyata malu yaaaa
Kata ibukku biasa wae. Kata temen2 juga biasa wae.
Tapi pas disana,, "om tak bawa pulang yaa" rasanya kok gimanaaaa
Tunggu saja,, besok kalo aku dah copot behel,, dan beberapa hari kemudian pake cincin baru.
Ah,, ato jadiin bandul kalung aja ya?