I live a hard life. Kedengarannya lebay sih. Tapi akhir2 ini aku lagi banyak cobaan. Huhuhuuuu….
Dulu aku sering ngerasa kalo semua kebahagiaan yang aku dapet pasti ada balasannya,, pasti ada kesialan bertubi-tubi yang mengintai sambil terkikik2, menunggu saat yang tepat.
Habis selalu gitu sih,, kejadiannya…
Habis setengah hari diisi dengan kesenangan tidak terduga, maka setengah hari sisanya akan terisi oleh kesialan, yang, seringnya, tidak diduga2 juga. Pernah juga sehari full bersenang-senang (padahal senang2 yang biasa wae kok. Ngumpul bersama teman2 dan ketawa-ketiwi bersama juga kugolongkan ke dalam kesenangan), dan sehari full berikutnya diisi dengan kesialan bertubi-tubi.
Sekarang sih aku berusaha nggak mikir dengan cara seperti itu…
Soalnya aku pernah nonton atau baca (lupa) bahwa yang kayak gitu tu bisa digolongkan ke dalam sindrom lalala (lagi2 lupa) yang akan membuat kita terlalu curigaan sama orang di sekitar, sama keadaan, kemudian kita jadi sering menyalahkan diri sendiri, kemudian bikin depresi yang bisa bikin orang nekat bunuh diri.
Oh iya. Yang menyalahkan diri sendiri itu, misalnya kita mendapat kegagalan. Terus kita menghubung2kan dengan “wah,, gara2 aku senang2 belanja banyak kemarin.. (padahal aslinya gak banyak2 amat)” dan “gara2 aku makan bakso 20 ribu… (padahal bakso yang 6000 juga ada) lalala…”
Kemudian akhirnya “tuhan pasti menghukumku dengan memberikan kegagalan ini”. Dan semacam.
Ini Cuma contoh sederhana sih. Dulu juga sebenernya aku cukup sering mengalami ini. Memang, dengan berpikir “tuhan sedang menghukum kita” kita jadi termotivasi untuk mendekatkan diri pada-Nya. Tapi kalo berlebihan,, ini sama sekali tidak bagus, menurut ilmu psikologi. Kita jadi depresi dan semangat berkompetensi menurun, karena menganggap kegagalan yang kita alami adalah hukuman tuhan yang harus kita terima just this way. Kita cenderung pasrah dan enggak memperbaiki kegagalan.
Nah,
Dalam konteks kesialan dan hal2 tidak enak yang aku alami,, seharusnya aku memikirkan cara untuk membereskan semuanya, bukannya menunda. Tadinya aku bahkan sempet mikir “nanti juga kesialan2 ini bosen sendiri. Cari orang lain gih..” (:D)
Tapi kayaknya sampe sekarang dia belum bosen sama aku. Si kesialan itu…
Jadi,, harus dibereskan!
Jalan mendekatkan diri dengan tuhan jalan terus,, tapi aku tetap harus BERTINDAK dengan SEGERA!
Ya!
Segera!
Semangat etta!!!!
Eh.
Ngomong2,, judul “I live a hard life” muncul begitu saja ketika kemarin, mau sarapan sebelum kuliah tapi nggak punya nasi dan lauk. Lalu aku masak indomi dan ternyata kompor gas rusak. Lalu aku masak pake kompor minyak yang nggak beres sehingga baju dan rambutku bau asap. Siangnya, pulang cepet2 mau makan,, tapi ternyata gak ada lauk. Ugh. Buka tudung saji dan menemukan beberapa butir telur rebus, dari dus2an hantaran kayaknya.
Akhirnya saking lapernya aku makan pake nasi dan telur rebus dikasih kecap. Lumayan juga sih. Karbohidrat, protein, dan sedikit mineral. Tapi, yang bikin nyesek,, aku basa-basi nawarin ibukku makan:
Aku: “buk,, makan buk…”
Ibuk: (tertawa) “nggak ah. Nggak tega ibuk liat makananmu…”
Plakk!! (tamparan keras) Hyuuuu….. (angin berembus)
Dan seketika itu muncul di pikiran: “I live a hard life….” (lebay)
Ada lagi. Hari ini nggak ada makan malem, dan kompor gas masih rusak. Akhirnya aku memutuskan akan makan roti tawar aja, dengan keju yang tinggal satu lembar yang udah tak cim jauh2 hari.
Yang ternyata dimakan abangku!! Tinggal bungkusnya thok. Tegaaaaaaa
Lalu aku mengorek2, siapa tau itu keju Cuma jatuh, dan tidak menemukan apapun kecuali terasi. Masak aku makan roti pake terasi??? Huek banget. Lalu aku meng-sms abangku dengan menyertakan beberapa animasi tersedu2. Dan balasannya adalah “lha aku laper je. Jajan aja sana”
Cih. Gak tau dia, siang ini aku makan dengan uang golek2 di tas,, receh2… muhuhuu…
Tapi bukan itu loo yang bikin aku merasa dirundung kesialan bertubi2…
Males nyebutin tapi. Hehe. Tapi aku juga ngerasa “sok sengsara” sih. Sementara di luar sana banyak orang yang juga sengsara dengan cara yang berbeda. Aku gak mau bilang mereka lebih sengsara daripadaku, karena tingkat ketahanan seseorang terhadap kesengsaraan berbeda2. Ya nggak?
Pokoknya, di luar sana banyak orang yang sengsara dengan cara yang berbeda2. Beberapa diantaranya mungkin malah sengsara bertubi2 plus bertahun2.
Aku emang sok sengsara sih, nek dipikir2…
Haha. Jangan ditiru.
Pokonya,,
Segera bereskan semua ini etta!!! Semangat!!
9 comments:
nasi, telor, kecap. makananku sehari2.
hahaha
hambok ya jajan. nek aku kesempatan njuk jajan2 lebay.
ah kyknya kamu ga sial deh tak. sialan aku,bejonan ra si malahan
hahahhaha... aku kok merasa lucu, ya, tak? jahat yaaaAA??
berpikir positif, tak! ayo!!
rizka
khirnya saking lapernya aku makan pake nasi dan telur rebus dikasih kecap. Lumayan juga sih. Karbohidrat, protein, dan sedikit mineral. Tapi, yang bikin nyesek,, aku basa-basi nawarin ibukku makan:
Aku: “buk,, makan buk…”
Ibuk: (tertawa) “nggak ah. Nggak tega ibuk liat makananmu…”
Plakk!! (tamparan keras) Hyuuuu….. (angin berembus)
Dan seketika itu muncul di pikiran: “I live a hard life….” (lebay)
hakakaka
kok aku ketawa ya baca postinganmu
(jahaat(
etta,, akhirnya merasakan derita anak kosan hhe..
semangat ta..
"Langit tidak pernah dijanjikanNya akan selalu biru, namun satu hal yang pasti. setelah hujan akan ada pelangi.."
>gel: nek dipikir2 emang aku bejonan juga sih. hanya sedang merasa sial. ahaha.
>sim: simsim kok anonim?
berpikir positif yaaaa
(diucapkan dg nada dan wajah sepo)
baiklah sim, terimakasih. akan kucoba.
>gupi: tidak papa gup. nek dipikir2 ibukku ki yo isa2ne,,
>fina:enggak juga lah kalo derita anak kos. anak2 kos yang kukenal mah jajan mulu,, kecuali mungkin kalo uang kiriman belon dateng. haha.
you are a lucky girl. you know that..
tau nggak sih, anak2 sd yang di lapindo ngirim surat untuk para 3 kandidat ca+cawa pres. surat cinta untuk mengingatkan kandidat supaya jika terpilih nanti, segera menyelesaikan persoalan mereka.mereka nulis di selembar kertas sidu yang dibagi-bagi.
yaAlloh.. paradoks banget gag to.. uang dihambur2 untuk kampanye 10-20 miliar.
jadi tetap semangat!
i AM a lucky girl. i know that. thanks!
hmm,, lapindo ya...
kalo buat penanganan lumpurnya kayaknya emang gak mungkin deh. kebanyakan ahli geologi dan lalala memperkirakan baru akan habis setelah seratus sekian tahun. gak tau gosip ato beneran.
kalo buat penanganan korban, misalnya dicarikan tempat mengungsi yg lebih baik dan lalala, ya, aku juga setuju. semoga pemimpin selanjutnya memberi solusi....
Ojo kakehan nggresulo.. Hahaha.. paling kui hukuman sering ngatain aku linglung.. orak ding.. sing sabar wae.. akeh sing luwih sengsara..
semangat tak!
aku juga sering merasa begitu kok..
Post a Comment